Xenophobia di Rusia

Tahukah kamu apa itu xenophobia?

1. Pembukaan

Kondisi suatu negara tidak terlepas atas proses historis, sosial, budaya, dan politiknya di masa lalu, serta berbeda satu sama lain. Hal ini membuat setiap negara unik dari negara lainnya. Salah satunya Rusia, negara yang telah melalui proses sejarah yang kompleks membentuk lika-liku fenomena sosial yang terjadi hingga sekarang.

Seperti halnya negara lain, Rusia juga mengalami globalisasi secara cepat. Namun, globalisasi tak hanya berdampak positif, karena terdapat berbagai isu yang muncul akibat globalisasi, salah satunya adalah xenophobia. Lalu, tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi membuat sekat pemisah antarnegara menjadi semakin kabur. Dari buramnya sekat tersebut, terjadilah proses integrasi beberapa unsur baru dalam masyarakat dominan yang terkadang mengalami penolakan.

Lantas, menimbulkan beberapa pertanyaan. Apa yang dimaksud dengan xenophobia? Seberapa relevankah perkembangan xenophobia dalam konteks negara Rusia? Bagaimana sejarah singkat perkembangan xenophobia di Rusia? Mari temukan jawabannya di bawah ini.

2. Apa itu xenophobia?

Secara etimologis kata xenophobia merupakan gabungan kata dalam bahasa Yunani, yaitu xenos dan phobos, yang masing-masing memiliki arti asing dan ketakutan. Dalam kata lain, xenophobia adalah ketakutan irasional terhadap orang asing (Bordeau, 2009: 4). Lebih lanjut, Hjerm (dalam Herrera, 2016: 293) menjelaskan bahwa xenophobia adalah tindakan yang mana sebuah individu direndahkan atas dasar persepsi dan prasangka negatif akan perbedaan yang terdapat pada individu tersebut.

Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa xenophobia adalah rasa ketakutan yang irasional terhadap seseorang yang dianggap asing atas dasar persepsi dan prasangka negatif yang dikonstruksikan masyarakat terhadap perbedaan yang dimiliki oleh individu tersebut.

Saat ini banyak literatur yang menunjukkan bahwa tindakan dan manifestasi ide xenophobia sedang berkembang dengan pesat. Salah satu tindakan xenophobia yang menjadi perbincangan hangat di media sosial, dan juga seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh negara di dunia untuk berbenah diri atas permasalahan xenophobia-nya, adalah tindakan kebencian terhadap masyarakat Asia di Amerika Serikat.

Dunia dikejutkan atas tindakan keji yang ditargetkan kepada masyarakat Asia di Amerika Serikat, terutama lansia. Masyarakat yang murka atas kejadian tersebut kemudian melakukan protes di jalanan Amerika Serikat dan mengkampanyekan tagar #StopAsianHate di media sosial sebagai media pembangunan kesadaran akan isu krusial xenophobia yang kian marak terjadi di Amerika Serikat, terutama kepada masyarakat Asia di Amerika Serikat.

Tindakan xenophobia terhadap masyarakat Asia di dunia melonjak semasa pandemi Covid-19. Hal ini tidak lepas dari retorika dan asosiasi negatif masyarakat Asia dengan virus corona. Beberapa pemimpin dunia, seperti Donald Trump, terus menerus mengeluarkan narasi “Chinese virus” dalam pidatonya mengenai virus corona. Hal inilah yang kemudian mengkonstruksikan kesadaran palsu masyarakat Amerika mengenai virus corona yang selalu dikaitkan dengan masyarakat Tionghoa di Amerika yang kemudian menjalar kepada masyarakat Asia lainnya.

Dampak xenophobia walaupun hanya berupa retorika yang dilontarkan oleh seseorang dapat berakibat fatal. Sudah cukup jelas bahwa tindakan xenophobia merupakan suatu tindakan yang keji dan tidak dapat kita justifikasi. Begitu pula dengan tindakan kekerasan kepada siapapun yang diarahkan atas dasar ras, etnis, agama, gender, warna kulit, atau identitas lain yang dimiliki seseorang.

Dalam diskursus mengenai xenophobia, Rusia bukan merupakan pengecualian diskursus ini. Artinya, juga terdapat tindakan dan manifestasi xenophobia di Rusia. Di sini akan menggali lebih dalam mengenai seluk-beluk xenophobia di Rusia. Sebelum memulai, ada baiknya jika kita memahami latar belakang keberagaman dan sosial politik masyarakat Rusia agar kita mengerti konteks dan latar belakang keadaan negara Rusia.

3. Profil Singkat Rusia

a. Latar Belakang Keberagaman di Rusia

Nenek moyang bangsa Rusia bisa dilihat dari keberadaan masyarakat Slavia yang mendiami kawasan selatan Baltik 2000 tahun yang lalu. Dahulu, masyarakat Slavia merupakan masyarakat primitif, mendiami daerah-daerah di sepanjang sungai atau aliran air. Lambat laun mereka mulai menyebar ke seluruh penjuru Eropa, mereka menerima dan mengadopsi banyak kebudayaan baru.

Penerimaan kebudayaan baru ini memungkinkan adanya proses asimilasi dan akulturasi yang dilakukan oleh masyarakat Slavia, dan pada akhirnya akan melahirkan berbagai perbedaan kebudayaan di masyarakat Slavia sendiri. Pembentukan pemerintahan Rus Kuno yang dikenal setelahnya dengan nama Rus Kiev di abad ke-9, secara alami menyatukan masyarakat-masyarakat Slavia yang sudah terbagi-bagi, dan juga masyarakat non-Slavia lainnya. Penyatuan masyarakat ini sangat memungkinkan adanya peleburan kebudayaan dari masing-masing kelompok masyarakat.

Diadopsinya kekristenan ortodoks ke dalam tatanan masyarakat Rus Kuno yang paganistik, invasi Tartar-Mongol ke Kievan Rus yang membawa corak Asia dan Islam, serta berbagai kerja sama yang dilakukan oleh Rusia dengan negara-negara Eropa lainnya di masa Imperium Rusia, juga menjadi beberapa faktor adanya keberagaman etnis dan kebudayaan yang ada di Rusia.

Pada perkembangannya, terutama pada masa Uni Soviet, keberagaman budaya dan etnis yang ada di Rusia sendiri ditekan dan lebih menonjolkan satu kesatuan sebagai Union of Soviet Socialist Republic (USSR). Pemerintah Soviet pada saat itu berusaha untuk menyatukan segala perbedaan yang ada di negara-negara Federasi Uni Soviet, semata-mata untuk mencapai tujuan sebagai negara komunis. Walaupun begitu, pemerintahan Soviet masih mengizinkan adanya pengembangan kultur dari masing-masing negara Federasi Uni Soviet.

Runtuhnya Uni Soviet di kemudian hari, membawa babak baru bagi negara-negara federasi yang hendak memisahkan diri dari Uni Republik Sosialis Soviet. Masing-masing dari mereka dengan kebudayaan uniknya, berlomba-lomba untuk menunjukkan jika mereka memiliki kultur yang berbeda dengan negara Federasi Rusia, bahkan Rusia itu sendiri (Fahrurodji, 2005:7—9).

b. Latar Belakang Sosial Politik di Rusia

Perbedaan etnis di Rusia telah lama memuat unsur keagamaan, terutama peranan kuat dari Kristen Ortodoks yang menjadi agama paling mendominasi selama hampir 1000 tahun lamanya. Pada saat rezim komunis mengambil alih pemerintahan Rusia pada tahun 1917, banyak dari institusi keagamaan ditutup, bahkan sebagian dihancurkan. Setelah rezim komunis meluruh, ditambah dengan kebijakan glasnost “keterbukaan” dari Gorbachev, agama-agama lainnya seperti Islam, Katolik, Kristen, Yahudi dan lain – lain, mulai berkembang di Rusia.

Rusia memiliki lebih dari 120 kelompok etnis, yang banyak mendiami wilayah nasional mereka sendiri, berbicara dalam 100 bahasa, tinggal di dalam perbatasan Rusia. Banyak dari kelompok ini kecil — dalam beberapa kasus terdiri dari kurang dari seribu individu — dan, selain Rusia, hanya segelintir kelompok yang masing-masing memiliki lebih dari satu juta anggota: Tatar, Ukraina, Chuvash, Bashkir, Chechnya, dan Orang Armenia.

4. Xenophobia di Rusia

a. Sejarah Singkat Xenophobia di Rusia

Jejak xenophobia di Rusia dapat dilihat pada awal masa pemerintahan Aleksandr II, di mana nilai-nilai nasionalis dalam pembangunan negara menjadi semakin populer di antara elit intelektual politik. Tidak heran, pada saat itu banyak politikus dan juga intelektual yang berharap bahwa Rusia akan berkembang menjadi negara dengan kohesi sosial, budaya, dan politik yang berakar dari pengalaman hidup bersama (Tolz, 2005: 128).

Pada perkembangannya, Rusia telah menerapkan kebijakan politik untuk mempersatukan keberagaman, salah satu contohnya kebijakan Rusifikasi yang dianggap cukup problematis akibat menitikberatkan homogenitas dalam penyatuan Rusia dan korenizatsiya yang berfokus dalam tindakan proaktif pembangunan negara skala besar. Dalam perjalanannya, terjadi sebuah pertikaian dalam konsep pembangunan negara, beberapa poin utama yang diajukan dalam konsep pembangunan negara adalah dengan menitikberatkan identitas etnis masyarakat Slav Timur hingga konsep pembangunan negara yang menitikberatkan kemultietnisan (Ibid., 128 – 133).

Uni Soviet kemudian berkembang menjadi sebuah negara yang memercayai asas keberagaman yang tercermin dalam kebijakan yang mempromosikan berkembangnya budaya-budaya minoritas dan mengakui keberagaman bahasa etnis-etnis lain di luar etnis Slav, walaupun pada masa pemerintahan Stalin dilakukan proses asimilasi dengan paksa, seperti pengembangan sebuah bahasa nasional dan pengubahan aksara Arab ke dalam aksara Latin yang kemudian diubah menjadi aksara Sirilik (Roucek, 1960: 19-20).

Permasalahan xenophobia terus berkembang di masa modern Rusia, bahkan memuncak di era ini. Menurut Kolstø (dalam Chapman, 2018: 381), permasalahan xenophobia di era modern Rusia mulai tampak pada awal tahun 2000-an. Sevortian (2009: 19) menambahkan bahwa pada tahun 2000-an, permasalahan xenophobia kerap diabaikan akibat anggapan bahwa xenophobia merupakan suatu permasalahan yang tidak dapat dihindarkan atas transisi perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi di Rusia pada waktu itu. Sevortian (Ibid., 21) menjelaskan beberapa kemungkinan akan perkembangan xenophobia pada awal tahun 2000-an, seperti bermulanya era glasnost yang membuka diskursus akan ide nasionalisme dan lahirnya konsep “parade kedaulatan” yang dalam perkembangannya menjadi sebuah permasalahan serius mengingat bahwa Uni Soviet terdiri atas banyak etnis dan bangsa di mana identitas tersebut kemudian digunakan sebagai upaya untuk membedakan bangsa yang satu dengan yang lain.

Seiring berjalannya waktu permasalahan xenophobia di Rusia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Gudkov (dalam Chapman, Op. Cit.) menunjukkan bahwa sikap xenophobia di Rusia mulai memburuk pada tahun 2013 di mana tingkat xenophobia meningkat secara substansial.

Salah satu insiden xenophobic kontemporer di Rusia terjadi pada tahun 2004 di mana seorang gadis Tajik bernama Hursheda Sultanova yang berusia 9 tahun dibunuh secara keji dan terjadi pembunuhan terhadap pelajar dengan fitur fisik Asia di Nevsky Prospect (Sevortian, Op. Cit., 20).

b. Mengapa xenophobia terjadi di Rusia?

Terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi sikap xenophobia di Rusia. Beberapa di antaranya adalah ketegangan ekonomi, pembentukan “nasionalisme” ketika konsep nasionalisme itu sendiri masih kurang jelas, mobilitas masyarakat yang tak terduga, globalisasi, sejarah, disintegrasi, konfigurasi geopolitik pasca-Uni Soviet, gelombang migrasi pekerja, dan retorika xenophobia oleh pemimpin Rusia (Ibid., 21-24).

Xenophobia yang terjadi di Rusia dapat dikaitkan dalam sejarah negara Rusia sendiri yang dimulai dari Imperium Rusia, masa Uni Soviet dan setelah masa Uni Soviet. Walaupun, kebanyakan alasannya dapat dilihat dari pasca runtuhnya rezim komunis di Rusia, yang pada awalnya menyatukan banyak negara-negara di satu payung yang sama.

Setelah keruntuhan Uni Soviet, banyak dari negara yang mulai memisahkan diri, dan berdiri independen sebagai satu negara lainnya terlepas dari Rusia. Pemisahan diri ini juga membawa suatu pandangan di mana mereka menganggap jika mereka berbeda dari masyarakat Rusia sendiri. Gelombang imigran pekerja, juga menjadi salah satu alasan kenapa terjadinya xenophobia di Rusia. Para pekerja, terutama bangsa Slav/bangsa Rusia sendiri, berpikiran jika pekerja imigran datang hanya untuk mengambil jatah pekerjaan yang seharusnya ditujukan untuk mereka (Herrera, Op. Cit., 307).

c. Bagaimana xenophobia diekspresikan di Rusia?

Tindakan xenophobia di Rusia diarahkan dalam bentuk aktivitas internet oleh kelompok kanan-jauh ekstrem (extreme far-right), pembunuhan berdasarkan penampilan fisik individu, kampanye dan propaganda xenophobik yang menargetkan suatu etnis dan migran di Rusia, protes xenophobik, dan retorika xenophobik yang diutarakan oleh pemerintah Rusia (Sevortian, Op. Cit., 20-26).

Ucapan kebencian dalam bentuk ucapan xenophobik seperti “Heil Hitler”, “Glory to Russia”, dan gerakan-gerakan simbolik seperti salut Nazi pernah diluncurkan dalam skala yang cukup besar di kota Moskwa di mana setidaknya 3.000 partisipan mengikuti protes rasis tersebut. Peristiwa tersebut terjadi bertepatan dengan Hari Kesatuan Nasional yang jatuh pada tanggal 4 November 2005 (Ibid., 23).

Aksi xenophobic juga diorganisasikan oleh kelompok-kelompok nasionalis yang memiliki kecenderungan neo-Nazi, seperti Gerakan Terhadap Imigrasi Ilegal (Dvizhenie protiv nelegalnoi immigratsii, DPNI) yang memiliki setidaknya 20.000 anggota yang berisikan pemuda di mana mereka bertugas untuk melukis grafiti bernuansa rasis dan meluncurkan serangan terhadap minoritas (Ibid., 21).

4. Data xenophobia di Rusia

Hasil penelitian Herrera menunjukkan bahwa etnis Slavia (Rusia, Ukraina, Belarusia) memiliki tingkat xenophobia yang lebih tinggi dibandingkan etnis-etnis lainnya (Yahudi, Chuvash, Bashkir, Tatar, Komi, Utara Kaukus, dan Armenia) dengan tingkat hostilitas 61,0%, 64,8% dan 62,3% secara berturut-turut.

Dalam penelitiannya juga dijelaskan bahwa pemuda berumur 19-22 tahun akan lebih mungkin melakukan tindakan-tindakan xenophobic kepada lima kelompok etnis (Roma, Chechen, Azerbaijan, Muslim, Amerika) dibandingkan masyarakat berumur 23-59 tahun, yang biasanya lebih menunjukkan perasaan xenophobic-nya terhadap kebangsaan Amerika.

Dalam hipotesisnya ia juga menyimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah bahwa pemuda, laki-laki, dan etnis dominan (Rusia, Ukraina, Belarusia) akan lebih mungkin untuk memiliki tendensi xenophobic dibandingkan masyarakat dewasa, perempuan, dan etnis minoritas (Ibid., 306-308).

Menurut penelitian Sevortian ia menunjukkan bahwa tingkat xenophobia di Rusia meningkat sekitar 20% per tahun. Sedangkan menurut Chapman persentase xenophobia terhadap etnis dan kelompok Chechen, Roma, Azerbaijan, Muslim, Amerika, Yahudi, dan Swedia di Rusia dari tahun 1996, 2004, dan 2012 secara berturut turut adalah 30%, 47%, dan 42%.

Selain itu penelitiannya juga menemukan bahwa penduduk kota Moskwa lebih mungkin untuk memiliki sikap xenophobic dibandingkan dengan penduduk daerah lainnya dan penduduk desa di Rusia memiliki rasa xenophobia yang semakin rendah dari waktu ke waktu

Dari semua penelitian di atas, terdapat sebuah penelitian yang menarik. Bertentangan dengan apa yang dipercayai masyarakat umum, menurut sebuah analisis yang dilaksanakan pada kurun waktu 2004-2012 oleh Hannah Chapman, individu yang menunjukkan ketidakpercayaan terhadap Putin lebih mungkin untuk memiliki sikap xenophobic dibandingkan dengan individu yang menunjukkan rasa kepercayaan yang tinggi terhadap Putin.

5. Hasil Wawancara

Untuk meneliti lebih lanjut mengenai topik xenophobia, kami mewawancarai lima responden yang tersebar dari seluruh Rusia dengan demografi lima perempuan dan rentang umur 18-20 tahun. Menurut para responden, xenophobia merupakan suatu bentuk ketakutan akan suatu hal yang bersifat asing dan dianggap berbahaya. Juga suatu bentuk ketakutan atas dominasi pihak tertentu dalam suatu kelompok.

Tiga dari lima responden menganggap bahwa xenophobia sangat minim terjadi di Rusia. Satu dari lima responden menganggap bahwa masyarakat rusia tidak membenci suatu golongan tertentu. Namun justru sebaliknya, pihak luar yang menebar teror bahwa orang Rusia yang wajib ditakuti atau bisa dibilang sebagai russophobia.

Dua dari lima responden menganggap xenophobia tetap ada di Rusia. Xenophobia ini merujuk pada ketakutan terhadap komunitas yang berasal dari Kaukasus, secara spesifik yakni merujuk kepada warga negara Uzbekistan dan Tajikistan. Alasan nya cukup klasik, kelompok itu (Uzbekistan dan Tajikistan) sering muncul pada pemberitaan media sebagai “penebar teror”.

6. Kesimpulan

Melalui penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa xenophobia di Rusia tidak dapat terlepas dari situasi historisnya sebagai sebuah negara Imperium yang kemudian berkembang menjadi Uni Republik Sosialis Soviet, dan menjadi sebuah negara Federasi Rusia di masa kini.

Tindakan-tindakan xenophobia ini diekspresikan, biasanya, dalam bentuk kekerasan verbal di internet seperti ujaran kebencian. Tindakan-tindakan tersebut didorong atas rasa nasionalisme yang tinggi dengan kecenderungan pandangan neo-Nazi. Hal ini dapat dilihat dalam ujaran kebencian “Heil Hitler”, “Glory to Russia”, kemudian Gerakan Terhadap Imigrasi Ilegal (DPNI). Berdasarkan data-data di atas juga dapat diketahui bahwa pria dan/atau laki-laki, dengan etnis dominan yaitu Rusia, Belarusia dan Ukraina, umumnya cenderung untuk memiliki xenophobia.

7. Daftar Pustaka

Bordeau, Jamie. Xenophobia. The Rosen Publishing Group, Inc, 2009.

Chapman, H. S., Marquardt, K. L., Herrera, Y. M., & Gerber, T. P. (2018). Xenophobia on the rise? Temporal and regional trends in xenophobic attitudes in Russia. Comparative Politics, 50(3), 381-394.

Chapman, Hannah. 2018. “Russians are Actually Getting Less Xenophobic”. The Washington Post. 18 April. Dalam https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2018/04/18/russians-are-actually-getting-less-xenophobic-at-least-outside-of-moscow/. (Diakses 6 Mei 2021).

Fahrurodji, A. 2005. Rusia Baru Menuju Demokrasi. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.

Herrera, Y. M., & Butkovich Kraus, N. M. (2016). Pride versus prejudice: Ethnicity, national identity, and xenophobia in Russia. Comparative Politics, 48(3), 293-315.

Miles, Robert, and Malcolm Brown. Racism. Psychology Press, 2003.

Raeff, Marc, dkk. “Russia”. Encyclopedia Britannica, 8 May. 2021. Dalam https://www.britannica.com/place/Russia. (Diakses 10 Mei 2021).

Sevortian, A. (2009). Xenophobia in Post-Soviet Russia. The Equal Rights Review, 3, 19-27.

 

Disusun oleh Tim Pengkajian dan Materi IKASSLAV 2021:

Qaulan Maruf Indra (2006524012)

Callista Annisa Sobri (2006530381)