Komparasi Buku Transisi Demokrasi di Federasi Rusia dan Who Lost Russia: How The World Entered A New Cold War

Simak komparasi kedua buku tersebut, yuk!

Siapa tahu bisa menambah wawasan kamu.

Transisi Demokrasi di Federasi Russia adalah buku yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu, ditulis oleh Dr Zeffry Alkatiri dari Universitas Indonesia. Buku ini merupakan buku rekomendasi suplemen dalam mata kuliah Sejarah Soviet dan Federasi Rusia, dan konten dari buku ini membahas mengenai sejarah pergerakan pro-demokrasi dan persekusi terhadap orang orang pro-demokrasi oleh pemerintah USSR dari tahun 1917-1991, serta pembahasan mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh Polisi Rahasia Federasi Russia (FSB) dalam merespon liputan wartawan selama Perang Chechnya I dan kebebasan pers Rusia pasca 1991. Pada dasarnya, buku ini membahas analisis perlindungan HAM di Rusia pada tahun 1991-2000.

Who Lost Russia: How The World Entered A New Cold War adalah buku yang diterbitkan oleh One World Publisher. Buku ini ditulis oleh Peter Conradi, seorang kontributor dan editor The Sunday Times. Ia pernah bekerja sebagai koresponden selama 6 tahun di Moskow, ia juga menjadi saksi hidup dari runtuhnya USSR pada 1991. Dalam bukunya, Peter membahas Foreign Policy Federasi Rusia pasca USSR dan Internal Unrest yang terjadi pada masa awal Federasi Rusia, seperti krisis konstitusional 1993, Perang Chechnya I, keterlibatan Rusia dalam Krisis Kosovo, dan Perang Yugoslavia, hingga mencapai masa Perang Sipil Suriah, yang mana Rusia berada di sisi Bashar Al-Assad bersama dengan Hezbollah dari Iran. Selain itu, buku ini membahas bagaimana Perang Dingin 1991 tidak 100% berakhir sebagaimana Rusia kembali bangkit sebagai pihak yang mampu menandingi barat bersama dengan aliansi yang mereka ciptakan dengan Iran, Tiongkok, dan Korea Utara.

Tentang Pengarang:

Dr Zeffry Alkatiri merupakan pengajar dan peneliti di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Lahir di Jakarta tahun 1959, lulus S1 Program Studi Rusia tahun 1986, lulus S2 dengan mengambil Kajian Amerika, dan S3 di bidang sejarah Rusia. Selain telah menulis lebih dari lima buku mengenai studinya tersebut, ia juga mendalami kesusastraan dan mendapat penghargaan buku puisi terbaik dari DKJ.

Peter Conradi, editor asing untuk The Sunday Times, selama enam tahun bekerja sebagai koresponden asing di Moskow, ia menyaksikan hancurnya USSR. Sebelum buku ini, dia menerbitkan buku berjudul Hitler’s Piano Player dan The King’s Speech, yang menginspirasi film pemenang piala Oscar yang diperankan oleh Colin Firth sebagai Raja George ke-6.

Transisi Demokrasi di Negara Federasi Rusia:

Transisi Demokrasi merupakan proses perubahan suatu sistem pemerintahan dari otoriter–totalitarian menuju negara demokratik yang melalui banyak polemik. Hal ini terjadi di Federasi Russia yang dulu dikenal sebagai Uni Soviet, mereka mengalami represi yang besar dari pemerintah dan tentara mereka.

Peresmian nama Uni Soviet dilakukan di Panggung Teater Bolshoi, Moskow pada 30 Desember 1922, dan surat kematiannya ditandatangani di Hutan Belarus. Per tanggal 08 Desember 1991 oleh Yeltsin dari Federasi Rusia, bersama Perwakilan Ukraina dan Belarusia, mereka menandatangani perjanjian yang secara formal membubarkan Uni Soviet di suatu pondok di Hutan Taman Nasional Belazheva, dan membentuk suatu persemakmuran yang lebih lemah, yaitu Persemakmuran Negara Merdeka (CIS). Perpisahan negara-negara Uni Soviet bisa dikatakan lebih damai daripada negara sebangsa mereka, seperti Yugoslavia, yang harus pecah karena berbagai perang hingga membawa NATO dalam masalah ini yang terjadi hampir bersamaan.

Rusia mengalami masa peralihan dari kepemimpinan otoriter menjadi kepemimpinan demokrasi setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991. Hal tersebut menjadi beban besar bagi Federasi Rusia sebagai pewaris dari semua tanggungan yang dibuat masa Uni Soviet. Perlombaan senjata di masa Perang Dingin selama 44 tahun (1947 – 1991) membuat devisa Rusia mengalami defisit, atau sekitar 25% APBN, yang digunakan untuk pengembangan senjata dan kekuatan militer. Pada akhirnya Rusia mendapat bantuan dari berbagai macam institusi keuangan Barat untuk memulihkan perekonomian.

Buku ini membahas mengenai akar dari budaya otokrasi dan diktatorial yang dianut oleh para pemimpin Rusia terdahulu dan keberadaan sistem Polisi Rahasia di Rusia yang dianut dari masa Kekaisaran Rusia seperti dari masa Ivan IV hingga Nikolas II. Sedangkan, di masa USSR mengenal tokoh seperti Lavrentiy Beria, hingga masa Federasi Rusia dibawah FSB (Federal Security Bureau), kejahatan FSB, dan KGB terhadap aktivis dan jurnalis.

Buku ini juga membahas mengenai Nomenklatura/Politburo di masyarakat USSR dan berbagai pengaruhnya dalam pemerintahan serta tindakan korupsi yang dilakukan di seluruh aspek pemerintahan hingga menggerogoti perekonomian USSR yang sudah lesu.

Selain itu juga, buku ini membahas mengenai dampak dari Perang Dunia II terhadap pengaruh perekonomian “negara-negara agrikultur” menjadi industri, dan komposisi populasi USSR, yang mana Rusia kehilangan sebagian besar populasi laki-laki akibat PD II dengan Jerman dan Jepang pada Khalkin Gol. Lebih lanjut, kegagalan awal USSR untuk menang melawan Jerman karena ditendangnya orang-orang yang kompeten dari Tentara Merah oleh Stalin.

Buku ini juga membahas mengenai Perang Dingin (1947-1991) dan dampak perang dingin bagi perekonomian Rusia, hingga usaha berbagai reformasi yang dilakukan oleh para pemimpin USSR seperti Kruschyev dengan destalinisasi, dan Gorbachev dengan glasnost dan perestroika. Dilanjutkan dengan kondisi politik pasca USSR di Federasi Rusia mulai dari peserta pemilu pertama di Federasi Rusia hingga krisis konstitusi 1993 dalam pembuatan konstitusi Rusia pasca USSR pertama untuk mengganti konstitusi 1977.

Kemudian, dibahas juga kondisi komunikasi informasi di Russia dimana menjamurnya media informasi baru milik perusahaan swasta menggantikan peran perusahaan atau media milik pemerintah seperti Radio Moskow dan TASS.

Who Lost Russia: How The World Entered A New Cold War:

Jika buku Transisi Demokrasi di Federasi Rusia membahas mengenai fenomena-fenomena yang terjadi dalam Federasi Rusia mulai dari masa USSR, menjelang runtuhnya USSR, dan masa awal Federasi Rusia, Who Lost Russia: How The World Entered A New Cold War membahas mengenai fenomena eksternal yang terjadi, baik di Eropa Timur dan Eropa Tenggara, khususnya Balkan dan negara-negara bekas Yugoslavia, khususnya Kosovo, di mana terjadi konfrontasi antara Rusia dan NATO di Bandara Pristina, Kosovo tahun 1999.

Buku ini juga membahas mengenai pertentangan realita bahwa dunia dianggap sudah menganut ideologi liberal-demokratis setelah runtuhnya kiblat ideologi komunisme (USSR) tahun 1991, dan mulainya era baru dalam perdamaian dan kerja sama dengan pihak Barat. Sayangnya, Rusia saat ini bernasib seperti Weimar-German pada 1920-an, atau awal pasca PD I, merasa dipermalukan dan babak belur pada masa 1990-an. Kondisi ini diperparah dengan ekspansi NATO menuju negara negara bekas satelit Moskow, seperti Polandia, Lithuania, dan Republik Ceko.

Selain itu, buku ini juga membahas mengenai usaha Vladimir Putin setelah mengambil kekuasaan dari tangan Boris Yeltsin di Kremlin, ia digambarkan sebagai orang yang ingin membawa kembali kejayaan dan kebanggaan Russia yang sudah babak belur pada awal 1990-an. Dia memulai langkah-langkah tersebut dengan invasi yang dia lakukan terhadap Georgia tahun 2008, Ukraina tahun 2014, dan Suriah pada Perang Sipil Suriah (2011-saat ini). Tindakan ini dapat dilihat sebagai awal dari bangkitnya Perang Dingin yang baru dan akan menjadi panas bila tidak terkendali.

Kritik:

Secara pembahasan isi, Transisi Demokrasi di Negara Federasi Rusia sudah cukup bagus. Namun, masih memiliki kekurangan. Mulai dari kurangnya ilustrasi untuk memberikan bukti kondisi saat itu terjadi. Ditambah lagi, buku tersebut tidak membahas detail tentang kejahatan HAM Rusia saat Perang Chechen (1994–1995) yang merupakan latar belakang dari tindakan terorisme balasan dari Chechens saat penyanderaan sekolah Beslan (2004) dan penyanderaan teater Moscow (2002).

Kesan West-Heroism juga tersirat dari banyaknya pinjaman uang kepada Federasi Rusia dan memberikan anggapan bahwa Rusia tidak mampu berbuat apapun untuk meningkatkan ekonominya sepeninggal Uni Soviet. Buku Ini juga kurang membahas keterlibatan Rusia selepas jatuhnya Uni Soviet pada konflik Yugoslavia dan Kosovo.

Kendati demikian, pembahasan kematian jurnalis Rusia yang kontra pada pemerintahan Boris Yeltsin dan Oligarki di belakang Yeltsin banyak diulas. Peran FSB dalam Pelanggaran HAM di Rusia juga tidak terlalu dibahas banyak dalam buku ini, FSB hanya digambarkan sebagai investigator dalam kematian misterius para aktivis kontra Yeltsin. FSB memang leluhur dari KGB yang merupakan Polisi Rahasia pada masa Uni Soviet, dan mereka memang banyak melakukan tindakan pelanggaran HAM di masa Uni Soviet dari masa Gulag hingga Uni Soviet runtuh.

Peran Barat sangat ditonjolkan dalam buku ini dari banyaknya Peran CSCE, OSCE, dan MHG dalam menciptakan transisi demokrasi di Federasi Rusia hingga peran pinjaman IMF, USAID, Jerman, Amerika dalam pemberian pinjaman untuk meningkatkan keadaan ekonomi Rusia setelah masa Uni Soviet.

Buku Ini kurang membahas lengkap dalam kejahatan HAM yang dilakukan oleh Uni Soviet terhadap negara satelitnya, seperti Polandia, Cekoslovakia, Hungaria, dan Afghanisthan. Mulai dari kasus Musim Semi Praha 1968 oleh Alexander Dubcek, Revolusi Hungaria 1956 oleh Imre Nagy, persekusi Soviet kepada rakyat Polandia (Pembantaian Khotyn) (1939–1946), dan Perang Soviet – Afghanistan (1979–1989).

Secara visual, sampul buku menyiratkan bahwa masa kepemimpinan Stalin adalah masa kepemimpinan terburuk dalam masa kehidupan Uni Soviet. Ini adalah reaksi yang sama saat berakhirnya masa Saddam Hussein di Baghdad, Irak, yang mana secara simbolik patungnya dirobohkan di akhir Perang Teluk II. Dengan jatuhnya patung Stalin menandakan berakhirnya masa kelam Uni Soviet, dan berakhirnya masa kejayaan Uni Soviet.

Sumber:

Dr Zeffry Alkatiri S.S. M.Hum, Transisi Demokrasi di Negara Federasi Russia. (Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Komunitas Bambu, 2007).

Peter Conradi, Who Lost Russia, How The World Entered a New Cold War. (London: OneWorld Publishers, 2017)

https://oneworld-publications.com/peter-conradi.html

 

Article by: Azka Makarim

Editor: Fatimah Zakia Azzahra