APA ITU VAKSIN SPUTNIK V?

Mari kita kupas tuntas segala tentang vaksin Sputnik V!

Sputnik V merupakan vaksin Covid-19 yang diproduksi oleh negara Rusia. Nama Sputnik V sengaja diambil dari nama satelit yang digunakan saat perlombaan antariksa pada tahun 1950-an. Didanai oleh Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), prototipe Sputnik V sudah mulai dikerjakan pada Maret 2020, terhitung sejak WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan bahwa Rusia telah sukses dalam mengembangkan vaksin Covid-19 pertama kali di dunia, pada Selasa, 11 Agustus 2020. Dilaporkan oleh AFP (Agence France-Presse) Putin menjelaskan, “Pagi ini, untuk pertama kalinya di dunia, vaksin untuk melawan Covid-19 telah didaftarkan.” Vaksin Sputnik Rusia ini secara resmi didaftarkan pada 12 Agustus 2020.

Proses Uji Coba Vaksin Sputnik V

Sebelumnya, uji coba vaksin ini telah dilakukan. Uji coba klinis pada vaksin ini berlangsung singkat yaitu hanya sekitar 2 bulan. Uji coba tahap 1 dimulai pada 17 Juni 2020 dengan melibatkan 76 sukarelawan yang direkrut melalui pihak militer. Hasilnya menunjukkan kekebalan, lalu grup sukarelawan tersebut dibebastugaskan pada 15 Juli 2020. Lebih lanjut, uji coba tahap 2 dimulai pada 20 Juli 2020 pada grup sukarelawan kedua. Hasilnya aman dan tidak ada efek samping dari vaksin tersebut.

Pada 3 Agustus 2020, media Rusia melaporkan bahwa uji coba klinis telah selesai. Namun, laporan tersebut tidak memuat informasi tentang uji klinis tahap ketiga yang diselesaikan sehingga persetujuan dalam menggunakan vaksin ini didistribusikan dengan tidak melibatkan uji coba klinis fase 3. Vaksinasi pertama ini akan didistribusikan kepada pekerja medis, guru, dan masyarakat yang memiliki potensi berisiko terpapar Covid-19.

Sputnik V diproduksi oleh Pusat Epidemiologi dan Mikrobiologi Nasional Gamaleya di Moskow. Vaksin Sputnik V tidak hanya digunakan di negara Rusia. Setidaknya ada 45 negara yang juga menggunakan atau mengembangkan vaksin Sputnik V milik Rusia ini, seperti seluruh negara di Eropa, India, Korea Selatan, Brazil, Turki, Iran, Tiongkok, Kazakhstan, dan Belarusia.

Sputnik V dianggap memiliki kerja yang cukup efektif dalam menangkal Covid-19 dan membentuk kekebalan tubuh yang stabil karena vaksin tersebut dibuat dari DNA Adenovirus SARS-CoV-2, yaitu virus yang telah dilemahkan untuk mengirimkan sebagian kecil patogen dan menstimulasi respons imun sehingga tubuh akan mengenali adanya ancaman dan siap melawan virus corona apabila masuk ke dalam tubuh. Vaksin ini bekerja dengan cara yang mirip dengan vaksin Oxford/AstraZeneca yang dikembangkan di Inggris dan vaksin Janssen yang dikembangkan di Belgia. Setelah divaksinasi, tubuh akan mulai memproduksi antibodi yang dirancang khusus untuk virus corona. Menurut Alexander Gintsburg, direktur Pusat Penelitian Nasional Gamaleya, hal itu menyebabkan partikel virus corona tidak dapat berkembang biak. Vaksin ini pun dapat disimpan dalam suhu antara 2-8 derajat celcius sehingga lebih mudah untuk disimpan dan didistribusikan.

Komparasi Sputnik V

Sebagai perbandingan, di dalam uji klinis vaksin Moderna, suntikan akan diberikan pada hari ke-0 dan ke-28, kepada 30.000 orang yang terbagi menjadi kelompok plasebo dan non-plasebo (divaksinasi). Pada hari ke-14, setelah penyuntikan, kedua kelompok plasebo dan kelompok non-plasebo dievaluasi gejala klinisnya. Pada kelompok plasebo, 185 orang menunjukkan gejala klinis, sementara di antara kelompok non-plasebo 11 orang menunjukkan gejala klinis. Dari 185 individu pada kelompok plasebo terdapat 30 kasus yang parah, sedangkan yang mendapatkan vaksinasi tidak terjadi kasus yang parah. Ini memberikan khasiat maksimal 94,5% melawan perkembangan gejala klinis dan 100% melawan penyakit berat.

Sementara di uji klinis vaksin Pfizer/BioNtech, suntikan akan diberikan pada hari ke-0 dan hari ke-21, kepada 43.000 orang yang dibagi menjadi kelompok plasebo dan non-plasebo. Setelah tujuh hari, dosis kedua diberikan. Dalam kelompok plasebo, terdapat 162 orang dengan gejala klinis, dan dalam kelompok non-plasebo terdapat 8 orang dengan gejala klinis. Ini memberikan kemanjuran terhadap gejala klinis sebesar 95%. Dari 162 pasien bergejala di kelompok plasebo, 9 berkembang menjadi penyakit parah, sementara hanya ada satu orang di kelompok non-plasebo mengalami penyakit parah. Ini memberikan kemanjuran terhadap penyakit parah sekitar 87% bagi mereka yang merasakan gejala klinis.

Vaksin DNA AstraZeneca/Oxford atau vaksin meningokokus yang berfungsi sebagai baseline, diberikan pada hari ke-0 dan ke-28 dengan tes PCR untuk mencari infeksi dan bukan gejala klinis. Ukuran penelitian adalah 12.000 orang dengan kemanjuran mencegah infeksi sebesar 70% dan khasiat mencegah penyakit parah sebesar 100%.

Hal yang membuat vaksin Sputnik ini berbeda dari vaksin lainnya adalah vaksin ini menggunakan dua versi yang berbeda pada dosis pertama dan dosis kedua. Dosis kedua diberikan selang 21 hari setelah dosis pertama diberikan. Dua versi yang berbeda dinilai memiliki formula yang berbeda pula dan dianggap efektif untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain terbukti efektif, efek samping dari vaksin ini tidak parah. Hanya efek ringan seperti nyeri lengan pasca disuntik, rasa lelah, dan demam. Vaksin Sputnik V menunjukkan persentase sebesar 92% efektif dalam menangkal virus corona.

Sumber: Evaluation of the Moderna, Pfizer/BioNtech, Astrazeneca/Oxford and Sputnik V Vaccines for COVID-19. https://doi.org/10.31219/osf.io/e4rqu

Efek Samping

Penderita efek samping Pfizer/BioNtech terbagi menjadi dua kategori, yaitu orang-orang yang berusia 16-55 tahun dan usia di atas 55 tahun. Pada mereka yang berusia di bawah 55 tahun, sebanyak 42% menderita sakit kepala, 4% menderita demam, 33% menderita nyeri otot dan sendi, dan kelelahan 47% . Pada mereka yang berusia di atas 55 tahun, sebanyak 39% menderita sakit kepala, 11% menderita demam, 48% mengalami nyeri otot dan sendi, dan 51% kelelahan.

Efek samping vaksin Moderna berpotensi “miring ke atas” karena semua peserta berusia di atas 56 tahun. Efek samping yang terjadi juga tergantung pada dosis masing-masing 25 μg dan 100 μg. Jumlah efek samping yang dilaporkan setelah dosis kedua diberikan pada penyakit rendah dan tinggi yang dilaporkan sebagai berikut: 40% dan 84% sakit kepala; 18% dan 20% demam; 60% dan 84% nyeri otot dan sendi; 50% dan 83% kelelahan. Tidak ada efek samping serius dilaporkan.

Efek samping vaksin AstraZeneca/BioNtech dievaluasi berdasarkan pemberian dan tanpa-pemberian Tylenol. Pada kelompok tanpa Tylenol, sakit kepala 42%, demam 51%, nyeri otot dan sendi 60%, dan kelelahan 70%. Kelompok yang menerima Tylenol tidak dilaporkan karena ini dapat menutupi efek samping. Efek samping yang parah berada di 0,3% dan berkisar pada kasus anemia hemolitik.

Sumber: https://www.news10.com/news/coronavirus/myths-about-covid-19-vaccines-debunked/

Vaksin Sputnik V hadir dalam dua bentuk, yaitu beku dan liofilisasi. Bentuk beku dilaporkan memiliki efek samping yang jauh lebih tinggi dengan 100% pelaporan hipertermia, 55% sakit kepala , 25% nyeri otot dan sendi, dibandingkan dengan 35%, 25% dan 30% untuk bentuk liofilisasi. Secara signifikan tidak ada reaksi parah yang dilaporkan.

Menariknya, terlepas dari keuntungan teoritis, vaksin mRNA memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada vaksin DNA. Hal ini tidak diamati saat membandingkan kedua jenis vaksin, kecuali untuk risiko demam yang sedikit lebih tinggi disebabkan oleh vaksin DNA. Perlu diingat bahwa uji coba sejauh ini dibatasi oleh kerangka waktu pelaporan efek samping yang sangat singkat. Selain itu, tidak ada informasi tentang efek samping terhadap anak-anak atau wanita hamil dilaporkan.

Sumber: Sumber: Evaluation of the Moderna, Pfizer/BioNtech, Astrazeneca/Oxford and Sputnik V Vaccines for COVID-19. https://doi.org/10.31219/osf.io/e4rqu

Polemik Vaksinasi

Meskipun demikian, masyarakat Rusia tetap waspada terhadap pemberian vaksin. Beberapa orang khawatir akibat rumor mengenai komplikasi yang didapat setelah divaksin. Ada pula yang berpendapat bahwa orang-orang Rusia memang konservatif sehingga tidak akan mempercayai negara sendiri. Masyarakat Rusia menganggap bahaya telah berlalu dengan alasan tidak lagi diberlakukan lockdown dan berita kematian akibat Covid-19 yang berkurang.

Reaksi dari negara lain pun beragam. Banyak yang menilai positif, tetapi ada pula yang menduga vaksin Sputnik V sebagai sarana propaganda Rusia. Salah satunya Prancis yang menilai vaksin Sputnik V sebagai alat penyebaran propaganda untuk menarik perhatian luar negeri. Vladimir Putin segera menepis skeptisisme tersebut dan mengatakan bahwa hal itu merupakan hal yang aneh. Kremlin juga menjelaskan bahwa Rusia tidak setuju dituduh menggunakan vaksin sebagai alat untuk memenangkan pengaruh geopolitik.

 

Sumber:

Associated Press. (2021). Vaksin Rusia, Sputnik V Terdaftar di 45 Negara. VOA Indonesia. Retrieved 4 April 2021, from https://www.voaindonesia.com/a/vaksin-rusia-sputnik-v-terdaftar-di-45-negara/5808643.html.

Azizah, K. (2021). 5 Fakta ‘Sputnik V’, Vaksin Corona Pertama di Dunia Buatan Rusia. detikHealth. Retrieved 4 April 2021, from https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5129911/5-fakta-sputnik-v-vaksin-corona-pertama-di-dunia-buatan-rusia.

Baraniuk, C. (2021, March 19). Covid-19: What do we know about Sputnik V and other Russian vaccines?. DOI: https://doi.org/10.1136/bmj.n743

De Soto, J. A. (2020, December 16). Evaluation of the Moderna, Pfizer/BioNtech, Astrazeneca/Oxford and Sputnik V Vaccines for COVID-19. DOI: https://doi.org/10.31219/osf.io/e4rqu

Oktarianisa, S. (2021). Perkenalkan! Sputnik V, Vaksin Covid Pertama Dunia dari Rusia. CNBC Indonesia. Retrieved 4 April 2021, from https://www.cnbcindonesia.com/tech/20200812062333-37-179118/perkenalkan-sputnik-v-vaksin-covid-pertama-dunia-dari-rusia.

Rainsford, S. (2021). Why many in Russia are reluctant to have Sputnik vaccine. BBC News. Retrieved 4 April 2021, from https://www.bbc.com/news/world-europe-56250456.

Schraer, R. (2021). Russia’s Sputnik V vaccine has 92% efficacy in trial. BBC News. Retrieved 4 April 2021, from https://www.bbc.com/news/health-55900622.

 

Disusun oleh Tim Pengkajian dan Materi, IKASSLAV Universitas Indonesia

Editor: Fatimah Zakia Azzahra