Protes Rusia 2021: Bagaimana Respon Kremlin dan Dunia?

Apa yang baru-baru ini terjadi di Rusia dan menjadi perbincangan hangat warga dunia?

Protes besar-besaran masyarakat Rusia terjadi pada tanggal 23 Januari 2020. Ribuan warga dari seratus kota dalam keadaan cuaca ekstrem di Rusia, ramai-ramai turun ke jalan menunjukkan rasa penolakan terhadap penangkapan Alexei Navalny, pengkritik Kremlin. Beberapa redaksi menyatakan bahwa protes kali ini merupakan salah satu protes tanpa izin terbesar di Moskow dan St. Petersburg dalam satu dekade terakhir.

Protes tersebut menyebabkan lebih dari ribuan warga Rusia ditangkap oleh pihak polisi, termasuk istri dari Alexei Navalny, Yulia, dan juga asisten seniornya, Lyubov Sobol. Sehari sebelum protes dimulai, puluhan dari organisator Alexei telah didenda maupun dipenjara.

Siapa itu Alexei Navalny?

Alexei Navalny adalah tokoh oposisi Rusia kelahiran 4 Juni 1976. Pada tahun 1998, Navalny lulus dari Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa Rusia dengan mengambil jurusan hukum. Pada tahun 2001, Navalny lulus dari Fakultas Keuangan dan Kredit Akademi Keuangan di bawah pemerintah. Pada tahun 2010, atas rekomendasi ekonom Sergei Guriev, jurnalis Yevgenia Albats, dan pemimpin oposisi Garry Kasparov, Navalny mengikuti kursus  di Universitas Yale di bawah program Yale World Fellows selama enam bulan.

Navalny pertama kali terjun ke dunia politik pada tahun 2000 dengan bergabung dengan partai Yabloko. Pada awal karirnya, Navalny ditugaskan untuk memobilisasi unjuk rasa. Pada tahun 2001, ia bekerja di headquarter untuk pemilihan Duma kota Moskow, dan pada tahun 2002 terpilih sebagai anggota dewan partai Yabloko cabang Moskow. Pada tahun 2003, Navalny memimpin kampanye pemilihan Duma di Moskow.

Pada tahun 2007, bersama dengan koleganya, Navalny mendirikan pergerakan bernama Narod. Satu bulan setelahnya, tepatnya pada bulan Juli, ia mengundurkan diri dari jabatan wakil ketua partai Yabloko. Pada bulan Desember, Navalny “diasingkan” dari partai Yabloko atas tuduhan guncangan dalam tubuh partai akibat gerakan-gerakan nasionalisnya.

 

Photo: dw.com

Lalu, apa yang terjadi di penjuru negara Rusia?

Di Vladivostok, puluhan pengunjuk rasa melarikan diri dari para polisi ke perairan Teluk Amur yang membeku dan menari membentuk lingkaran. Di bawah cuaca minus 13 derajat celcius, para pengunjuk rasa berpegangan tangan, menari, melingkari perairan, dan berteriak “Putin adalah pencuri!” dan “Memalukan, memalukan, memalukan!” Para pengunjuk rasa tersebut mengacu pada istana di Laut Hitam yang telah diekspos oleh tim Navalny.

Di Yakutsk, seorang perempuan paruh baya berteriak kepada para polisi, “Siram para pengunjuk rasa ini dengan air!” Ini menunjukkan bahwa memang terjadi perbedaan pendapat di antara masyarakat Rusia mengenai protes yang terjadi. Kita semua tahu bahwa penyemprotan air dibawah cuaca minus 41 celcius dapat membunuh para pengunjuk rasa.

Aparat Rusia telah mengajak para masyarakat untuk tidak mengikuti protes. Aparatur juga melayangkan peringatan kepada siapapun yang mengikuti protes akan dikenakan tuntutan kriminal. Kementerian dalam negeri Rusia juga turut melayangkan peringatan bahwa para pengunjuk rasa dapat dipenjara selama delapan tahun.

Perkelahian antara polisi dan para pemberontak pun tidak dapat dihindarkan. Pada hari Jumat, Departemen Polisi Kota Moskow menyatakan bahwa pihaknya akan mempersekusi siapa saja yang mengajak siapapun untuk ikut pemberontakan, baik lewat media sosial atau secara langsung.

Tentu saja kecaman-kecaman datang dari dunia internasional, termasuk Amerika Serikat, dan beberapa negara barat lainnya. Salah satunya adalah Menteri Luar Negeri Inggris yang mengecam agar Kremlin tidak menangkap para pengunjuk rasa dengan sewenang-wenang. Dunia internasional menyerukan agar Rusia dapat melihat adanya hak mereka dalam kebebasan berkumpul dan berserikat secara damai, kebebasan berpendapat, dan berekspresi.

Penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan penahanan yang meluas merupakan respon dari Josep Borrell selaku kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa. Amerika Serikat bersama Uni Eropa telah menetapkan sanksi kepada individu dan entitas Rusia atas kasus Alexei Navalny. Namun, Kremlin menyebut gerakan tersebut tidak masuk akal dan tidak akan berdampak apapun.

Pada Senin (02/03/2021) dikabarkan Amerika akan memberi sanksi kepada Rusia terkait Alexei Navalny. Sanksi tersebut spesifik menyasar kepada pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam upaya pembunuhan Alexei Navalny. Administrasi Amerika Serikat, Joe Biden, menegaskan bahwa Amerika akan memberikan sanksi yang bersifat finansial dan personal. Hal tersebut dimulai dengan membekukan aset dari target sanksi di Amerika dan melarang perusahaan apapun di Amerika untuk berbisnis bersama target sanksi tersebut. Adapun sejumlah pengecualian akan diberikan untuk hal-hal yang bersifat esensial.

Photo: en.tempo.co

Lantas, bagaimana reaksi Kremlin?

Dmitry Peskov, sekretariat pers berpendapat bahwa investigasi mansion Putin di Laut Hitam adalah kebohongan dan tugas copy paste. Pemerintah Rusia mengancam TikTok denda jika tidak menghapus konten-konten ajakan unjuk rasa. Setidaknya TikTok telah menghapus 38 persen unggahan mengenai unjuk rasa Rusia. Pemerintah Rusia bersama dengan polisi dan Kementerian Dalam Negeri juga mengajak masyarakat untuk tidak mengikuti unjuk rasa, dengan risiko penuntutan kriminalitas.

Apakah terdapat bias media dalam pemberitaan protes Rusia?

Seperti yang telah kita ketahui, media kerap kali condong berpihak hanya ke salah satu sisi. Bias media mempunyai berbagai bentuk, seperti bias media dapat berupa ideologis, partisan, fabrikasi informasi, preferensi personal, dan lainnya.

Dari lima media utama Barat yang memberitakan protes Rusia, seperti The Guardian, Metro, Daily Mail, BBC, New York Times, dan Financial Times, masing-masing dari media tersebut memang cenderung mengecam tindakan pemerintah Rusia terhadap Navalny dan para pengunjuk rasa. Media-media tersebut membawa retorika dan memfokuskan sudut pandang yang menyudutkan Rusia.

Media luar kerap kali menggiring isu hak asasi manusia dalam masalah peracunan dan penangkapan Navalny untuk memojokkan pemerintah Rusia, terlepas dari fakta bahwa organisasi HAM Amnesty International telah mencabut status tahanan Alexei Navalny karena masa lalunya yang tidak memenuhi standar tinggi Barat.

Mengapa media Barat kerap menyajikan bias terhadap pemberitaan Rusia?

Konflik ini dapat menjadi sebuah kesempatan emas bagi negara-negara lawan untuk menekan kekuatan Rusia yang juga dianggap sebagai negara adidaya. Terlihat jelas bahwa media-media asing ingin membantu pihak oposisi Presiden Putin, yaitu Aleksei Navalny, untuk mendapatkan kebebasan dan haknya. Padahal yang kita tahu, itu bukan urusan dan tidak pernah menjadi urusan mereka pada awalnya.

Sedangkan dari media Rusia sendiri, seperti RT, The Moscow Times, Kommersant, RIA, dan RBK, disajikan sudut pandang yang turut menargetkan kedua belah pihak. Tidak hanya para pengunjuk rasa dan Navalny, media-media Rusia tersebut juga memperlihatkan sudut pandang dari pihak Rusia.

Jika memang terdapat bias media, hal buruk apa yang dapat terjadi?

Bias media dapat berpengaruh kepada politik publik maupun privat. Bias media dapat mempengaruhi jalannya kebijakan konstitusional negara seperti legislasi dan birokrasi maupun kondisi sosial politik masyarakat secara umum seperti pemboikotan (Baron, 2006: 3). Memang, bias media tidak dapat dihindari. Hal tersebut disebabkan oleh banyak variabel, beberapa daripadanya adalah kepemilikan korporasi besar akan media, keberpihakan partisan sebuah media, dan bahkan alam para jurnalis itu sendiri. Menurut survei ASNE (dalam Povich, 1996: 137) terhadap jurnalis, jurnalis didominasi oleh kaum muda yang memiliki pandangan dunia liberal. Beberapa media yang dimiliki korporasi besar tentunya akan menyajikan media dengan target pasar tertentu yang dapat memuaskan sang korporasi besar. (Baron op cit, 2006: 4-6). Menurut Cangara (dalam Rahman, 2009), dukungan media terhadap sebuah partisan politik tertentu merupakan salah satu taktik komunikasi.

Bagaimana akhir dari kekacauan ini?

Kondisi dan lokasi Navalny tidak diketahui setelah dipindahkan dari penjara Kolchugino. Sekarang ia berada di koloni hukuman kolektif IK-2 di kota Pokrov. Navalny dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara dengan komunikasi terbatas yang dapat dilakukan hanya melalui tim hukumnya. Dalam unggahannya di Instagram, ia menceritakan keadaannya di penjara:

  • “Halo semuanya dari ‘Sektor A dengan kontrol yang ditingkatkan A’. Saya harus mengakui bahwa sistem penjara Rusia telah berhasil mengejutkan saya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa membangun kamp konsentrasi berjarak 100 km dari kota Moskow itu mungkin dilakukan.”.
  • “Ada kamera CCTV di mana-mana, mereka mengawasi semua orang dan membuat laporan untuk pelanggaran sekecil apa pun. Saya pikir seseorang di atas telah membaca 1984 karya Orwell. Tetapi jika Anda menganggap semuanya dengan humor, Anda bisa tinggal di sini. Jadi secara keseluruhan semuanya baik-baik saja dengan saya.”.

Di selang waktu lain, istri dari Navalny, Yulia Navalnaya, sudah dibebaskan sejak 1 Februari 2021. Vyacheslav Gimadi, kepala departemen hukum Yayasan Anti Korupsi (FBK) Navalny, mengungkapkan bahwa Navalnaya ditahan “selama protes damai” oleh petugas polisi yang tidak mengidentifikasi diri mereka atau memberikan alasan penahanan.

Para pendukung Navalny, yang juga ikut ditangkap, dipenjara di sebuah kamp detensi di Sakharovo. Kondisinya sangat buruk, satu ruang detensi yang biasanya diisi oleh delapan orang, justru diisi hampir tiga kali lipat dari jumlah maksimal. Mereka berdempetan satu sama lain, dengan penghangat yang sangat minim. Berdasarkan video yang diunggah oleh seorang aktivis muda, mereka tidak diberikan air minum dan makanan.

Lyubov Sobol, salah satu sekutu utama dari Navalny, menghadapi dakwaan atas klaim pelanggaran protokol kesehatan, ketika Sobol menggerakan massa untuk berdemonstrasi. Lyubov Sobol tiba di Komite Investigasi Rusia pada hari Kamis. Pekan lalu, pengadilan Moskwa menempatkan Sobol dan saudara laki-laki Navalny, Oleg, menjadi tahanan rumah. Tanpa akses internet, selama dua bulan penuh sebagai bagian dari penyelidikan kriminal atas dugaan pelanggaran protokol kesehatan COVID-19.

Sobol juga didakwa masuk tanpa izin setelah membunyikan bel dari seorang tersangka petugas keamanan, yang tidak sengaja mengungkapkan rincian keracunan Navalny ke agen novichok. Pengacara Sobol, Vladimir Voronin, mengatakan kepada wartawan bahwa aju banding telah diajukan. Sampai tanggal 12 Maret 2020, kuasa hukum Navalny menyatakan bahwa Navalny telah dipindahkan dari penjara, walaupun keberadaannya masih tidak diketahui. Tim Navalny dalam akun Twitter-nya mengatakan, “Dalam berbagai macam dalih, mereka tidak dapat dipertemukan dengan Navalny. Hanya pada pukul 14.00 ketika mereka mengatakan bahwa Navalny telah dipindahkan. Mereka menolak untuk menjawab dimana Navalny dipindahkan.”

 

Disusun oleh Tim Pengkajian dan Materi, IKASSLAV Universitas Indonesia

Editor: Fatimah Zakia Azzahra